← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Utang Darah Satu Suro

Diterbitkan pada: 16 Agustus 2026
✦

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="OWRIGe_p" data-hveid="CAAIBRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Bus ekonomi yang ditumpangi Baskara menurunkan penumpang terakhirnya di tepi jalan lintas provinsi, tepat saat matahari tenggelam di balik punggung perbukitan. Di hadapannya, sebuah gapura beton berlumut berbentuk dua telapak tangan yang saling mengatup menyambut dengan keheningan yang pekat. Papan petunjuk arah berbahan kayu jati di sisi kiri jalan sudah lapuk dimakan usia, namun guratan aksara Jawa kuno di atasnya masih terbaca samar: Lemah Abang. Tidak ada ojek ataupun kendaraan lain yang melintas, memaksa Baskara untuk merapatkan jaket jeansnya demi menghalau angin gunung yang mendadak berembus menusuk tulang.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="OWRIGe_r" data-hveid="CAAIBhAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Baskara mulai melangkah membelah jalanan berbatu yang menjadi satu-satunya akses masuk ke dalam desa. Kiri dan kanan jalan didominasi oleh tegakan pohon jati purba yang menjulang tinggi, dengan ranting-ranting meranggas yang tampak seperti jemari kurus raksasa mencengkeram langit senja. Daun-daun kering yang berguguran berkerisik setiap kali alas sepatunya menginjak tanah, menciptakan irama monoton yang ganjil di tengah kesunyian hutan. Entah mengapa, semakin jauh dia berjalan, aroma solar dan polusi kota yang menempel di bajunya perlahan menguap, digantikan oleh bau tanah basah yang pekat bercampur semacam aroma busuk yang samar.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="OWRIGe_s" data-hveid="CAAIBxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Sensasi diawasi mulai merayap di tengkuk Baskara saat langkahnya melewati patung pembatas desa yang berbentuk sosok tanpa kepala dalam posisi bersila. Di bawah patung tersebut, sekeranjang sesajen anyaman bambu berisikan bunga mawar layu, pisang raja, dan sebatang rokok kretek yang masih mengepulkan asap tipis tampak baru saja diletakkan. Kabut tipis berwarna kelabu mulai turun dari tajuk-tajuk pohon, memperpendek jarak pandang dan membuat bayangan pepohonan di sekitarnya tampak seolah-olah bergerak mengikuti ritme langkah kakinya. Baskara berdeham keras, mencoba mengusir rasa sunyi yang mulai terasa menghimpit dadanya, namun suaranya justru tertelan bulat-bulat oleh keheningan hutan.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="OWRIGe_t" data-hveid="CAAICBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Setelah hampir setengah jam berjalan menembus kabut, vegetasi hutan mulai melonggar dan menampakkan deretan rumah joglo tua yang berjejer rapi di sepanjang undakan tanah. Rumah-rumah di Desa Lemah Abang memiliki karakteristik yang seragam; dinding papan kayunya telah menghitam karena usia, dengan atap genteng tanah liat yang ditumbuhi lumut tebal. Tidak ada lampu teras yang menyala terang, hanya pendar kekuningan dari lampu minyak tradisional yang bergoyang ditiup angin di sudut-sudut emperan rumah. Suasana desa luar biasa sepi, seolah seluruh penghuninya telah mengunci diri di dalam rumah sebelum kegelapan benar-benar jatuh sempurna.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="OWRIGe_u" data-hveid="CAAICRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Interaksi pertama Baskara dengan penduduk lokal terjadi saat dia melewati sebuah pelataran rumah yang sedikit lebih luas dari bangunan lainnya. Seorang lelaki tua berpakaian lurik lusuh sedang duduk bersila di atas amben kayu, sibuk mengasah sebilah sabit dengan batu asahan tanpa memedulikan kegelapan yang mengepungnya. Suara gesekan logam yang beritme itu berhenti seketika saat Baskara melintas, dan lelaki itu perlahan mendongakkan kepalanya yang dipenuhi rambut beruban. Sepasang mata keruh yang hampir seluruh bagian putihnya menguning menatap lurus ke arah Baskara, menyiratkan tatapan yang tidak bisa diartikan antara mengenali atau justru menilai.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul