Tuhan Salah Memahamiku
Jarum jam di dinding ruang produksi menunjuk angka empat lewat dua belas menit. Bagi Andika, waktu itu bukan sekadar penanda pergantian shift, melainkan jeda napas sebelum keheningan yang tak wajar menyergap. Ia menekan tombol merah pada panel kontrol mesin press hidrolik—mesin yang selama hampir sepuluh tahun menjadi detak jantung kedua dalam hidupnya.
Suara gemuruh motor hidrolik yang biasanya menelan seluruh percakapan, memaksa orang berteriak agar saling mendengar, perlahan mereda. Dengungnya mengecil, lalu lenyap, digantikan oleh desisan kipas exhaust yang lelah dan langkah-langkah sepatu keselamatan yang bergema di lantai beton. Suasana berubah. Orang-orang berbicara lebih pelan, seolah takut mengganggu kesedihan yang belum sempat mereka namai.
Andika berdiri mematung. Jarinya masih menempel pada tombol merah yang dingin. Ia tidak tahu mengapa tangannya enggan ditarik. Mungkin karena menyentuh tombol itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan hari ini.
Selama sepuluh tahun, suara mesin itu adalah musuh. Terlalu bising saat kepala pening, terlalu panas saat target produksi mencekik leher, terlalu monoton saat shift terasa seperti hukuman seumur hidup. Andika sering membayangkan hari kebebasannya. Ia mengira akan ada rasa lega, mungkin bahkan sorak kemenangan kecil di dalam dada. Namun kenyataannya? Kosong. Tidak ada lega. Tidak ada sedih. Hanya ada perasaan ganjil, seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa rumah tempat ia berteduh akan dibakar, sementara ia masih duduk di ruang tamu, memegang cangkir kopi, dan belum tahu harus menyelamatkan barang apa pertama kali.
Andika menoleh. Pak Darto, supervisor lini produksi, berdiri beberapa meter darinya. Map cokelat kusam tergenggam erat di tangan kanannya. Lelaki berusia hampir enam puluh tahun itu biasanya memiliki suara bariton yang sanggup mengalahkan deru mesin. Hari ini, suaranya terdengar rapuh, seperti kertas yang siap sobek.