← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Tinta, Darah, dan Akar Ulin

Diterbitkan pada: 26 September 2026
✦

Udara dingin bulan September mulai menyelimuti kota Zurich, membawa aroma embun pagi yang bercampur dengan sisa-sisa salju tipis di puncak pegunungan Alpen. Di kamar lantai dua rumah kayu tradisional milik keluarganya yang terletak di lereng bukit pinggiran kota, seorang pemuda berambut pirang kecoklatan tampak sibuk merapikan tumpukan kertas jurnal di atas meja kerjanya. Namanya Scout, mahasiswa pascasarjana bidang teknik lingkungan di ETH Zurich yang dikenal memiliki mata abu-abu tajam dan postur tinggi tegap. Bagi mahasiswi-mahasiswi di kampusnya, Scout bukan sekadar sosok akademisi yang cerdas, melainkan seorang idola kampus dengan pesona dingin yang memikat. Hari itu, ia mengenakan pullover rajut abu-abu tua sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis di udara pagi Swiss.

Rutinitas pagi Scout selalu berjalan dalam keteraturan yang presisi, khas gaya hidup masyarakat Eropa Tengah yang menjunjung tinggi efisiensi waktu. Sebelum meninggalkan rumah keluarganya yang asri, ia selalu menyempatkan diri mengucapkan Grüezi—sapaan khas Swiss Jerman—kepada tetangga sepuh di sebelah rumah yang sedang menyirami tanaman hias di halaman. Kehidupan di Zurich terasa begitu damai, steril, dan teratur dalam balutan sistem modern yang nyaris tanpa cela. Namun, di balik kenyamanan hidup di negara berpenduduk sembilan juta jiwa itu, ada satu kegelisahan akademik yang terus menggelayuti benak pemuda berusia dua puluh empat tahun tersebut. Scout merasa penelitian laboratorium dan simulasi komputer di kampusnya sudah terlalu abstrak untuk menyelamatkan ekosistem dunia nyata yang kian tergerus zaman.

Di atas meja kerjanya, sebuah laptop terbuka menampilkan peta topografi global dengan titik kursor yang berkedip-kedip di kawasan Asia Tenggara. Scout sedang mempertimbangkan sebuah keputusan besar untuk mengambil proyek riset lapangan independen yang didanai oleh lembaga konservasi internasional. Pilihannya jatuh pada sebuah pulau megah berhutan tropis terluas di belahan bumi selatan: Kalimantan. Alasan akademisnya sangat logis dan terukur, yakni mengkaji efektivitas transisi energi mikrohidro berbasis komunitas adat yang selaras dengan pelestarian hutan hujan purba. Ia tahu betul bahwa tantangan geografis di sana tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi justru di situlah letak daya tarik riset yang sesungguhnya.

Keputusan besar itu diambil setelah melalui pertimbangan matang bersama profesor pembimbingnya, Herr Dr. Weber, yang sempat merasa khawatir dengan keselamatan fisik sang mahasiswa di alam liar. “Es ist ein gefährliches Abenteuer, Scout,” ujar sang profesor kemarin lusa, memperingatkan bahwa itu adalah petualangan yang berbahaya di tengah rimba belantara tropis. Namun, Scout menjawab dengan senyum tipis penuh keyakinan bahwa seorang insinyur sejati harus turun langsung mencelupkan kaki ke dalam lumpur, bukan hanya berteori di atas meja laboratorium yang steril. Ia telah mempelajari berbagai literatur etnografi dan ekologi nusantara selama berbulan-bulan, termasuk membaca laporan-laporan teknis dari insinyur lokal yang bertugas di lapangan.

Di sela-sela kesibukannya merampungkan dokumen keberangkatan, ponsel pintar di samping meja berdering pelan menandakan sebuah surat elektronik masuk. Pesan itu berasal dari kantor kementerian energi dan sumber daya mineral di Jakarta, yang mengonfirmasi penunjukan seorang insinyur muda lokal sebagai pendamping teknis utamanya selama di lapangan. Nama yang tertera di surat penugasan itu adalah Diva, seorang insinyur lulusan teknik sipil universitas ternama yang dikenal cerdas dan cekatan. Scout membaca profil singkat sang mitra kerja, di mana terselip catatan bahwa perempuan tersebut merupakan bagian dari masyarakat adat Dayak asli. Sebuah informasi menarik yang membuat rasa penasarannya terhadap proyek ini mendadak melonjak drastis.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul