The Parasite
Jakarta tidak pernah meminta maaf atas kemacetannya, dan Adit tidak pernah peduli pada hal-hal yang tidak menghasilkan keuntungan. Pukul sembilan malam, di salah satu sudut lounge semi-terbuka di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, udara berbau parfum mahal, asap rokok elektrik beraroma buah beri, dan keringat tipis dari tubuh-tubuh yang berlomba-lomba terlihat mapan. Di antara kerumunan eksekutif muda yang sibuk memamerkan jam tangan mewah dan obrolan soal portofolio kripto, Adit duduk dengan santai. Dompetnya di saku celana mungkin hanya menyisakan lembaran merah dua lembar dan kartu ATM dengan saldo yang mengenaskan. Tapi malam itu, bukan uang yang menjadikannya pusat gravitasi meja tersebut.
"Kamu serius mau ambil proyek itu, Dit? Kliennya rewel minta ampun," suara seorang perempuan bernama Dinda meluncur di antara denting gelas wiski. Dinda adalah manajer pemasaran di sebuah agensi periklanan multinasional, perempuan mandiri berusia 30 tahun yang malam itu mengenakan dress hitam tanpa lengan yang mengekspos lekuk tubuhnya secara elegan.
Adit tersenyum. Senyuman yang telah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun: hangat, sedikit misterius, dan menyiratkan bahwa dunia sedang berkonspirasi memihaknya. Ia memajukan tubuhnya, membiarkan aroma parfum Wood Sage & Sea Salt miliknya menyeruput jarak yang tersisa di antara mereka.
"Rewel itu cuma cara mereka bilang kalau mereka butuh perhatian lebih, Din," jawab Adit dengan nada bariton yang sengaja dilembutkan. Tangannya bergerak santai menyentuh punggung tangan Dinda di atas meja, mengusapnya pelan tanpa terlihat murahan. "Sama kayak kamu sekarang. Butuh seseorang yang bener-bener dengerin kamu, bukan cuma ngomongin target bulanan."
Dinda terkekeh, meski matanya mulai menyipit dalam tatapan yang menyiratkan pertahanan terakhirnya sedang runtuh. Di mata Dinda, Adit adalah pria mapan yang tenang, mandiri, dan punya kharisma lelaki matang. Dinda tidak tahu—dan memang tidak diizinkan tahu—bahwa kaus berkerah merek designer yang dipakai Adit malam ini adalah hasil pinjaman dari lemari temannya, dan kunci mobil SUV Eropa yang tergeletak di sebelah ponsel Adit adalah milik seorang kenalan lain yang mobilnya sering ia pinjam untuk modal tebar pesona.