Skripsi Bumbu Dapur
Gelar "Mahasiswa Abadi" itu sebenarnya bukan sekadar status akademik, melainkan sebuah bentuk pengabdian tanpa batas terhadap fasilitas kampus yang kadung nyaman. Di saat temen-temen seangkatan sudah sibuk pakai kemeja rapi berdasi, nenteng laptop kantor bergengsi, dan pamer slip gaji di grup WhatsApp, gua masih setia pakai celana pendek kusam sambil nongkrong di selasar fakultas. Orang-orang mungkin lihat gua dengan tatapan iba, ngira gua lagi mikul beban hidup seberat jembatan Suramadu. Padahal aslinya, gua cuma lagi mikirin nanti sore enaknya makan mi instan pakai telur setengah matang atau cukup kuah sisa kemarin malam saja.
Sebagai manusia yang dianugerahi bakat alami berupa keahlian menunda pekerjaan, hidup di Jogja adalah sebuah kesalahan fatal sekaligus anugerah terindah. Kota ini punya sihir mistis yang bikin urusan mendesak macam skripsi terasa kayak angin lalu yang lewat begitu saja di beranda kosan. Udara sore Malioboro yang hangat, wangi arang angkringan di tiap sudut jalan, sampai obrolan gak penting soal teori konspirasi alien bareng tukang parkir, selalu berhasil jadi alasan valid buat nunda bab pertama revisian. Jogja terlalu pemaaf buat para pemalas berkedok santai kek gua, sampai keseringan lupa kalau dompet gua gak ikut-ikutan santai.
Reputasi gua di kampus ini, puji tuhan, cukup gemilang meski bukan di bidang IPK. Kalau ada penghargaan buat kategori "Manusia yang Paling Gampang Dikenal Satpam sampai Dekan", trofinya sudah pasti dipajang di kamar gua sekarang. Temen gua melimpah ruah dari ujung kantin sastra sampai parkiran teknik yang penuh oli. Masalahnya, kedekatan sosial yang luar biasa ini justru jadi bumerang paling mematikan buat kewarasan mental gua. Setiap kali gua lewat bawa helm kebanggaan, selalu ada suara-suara sumbang dari kejauhan yang meneriakkan kalimat pembunuh: "Woi, Gus! Kapan nyusul sidang? Keburu ubanan tuh dosen pembimbing lo!"
Sialnya, kalimat itu bukan lagi candaan, melainkan ramalan cuaca harian yang akurat. Dosen pembimbing gua, Pak Bambang—seorang pria paruh baya yang hobinya ngoleksi stempel merah berbentuk tengkorak metaforis—sudah hapal betul bau knalpot motor gua. Beliau bahkan gak perlu lihat muka gua lagi buat nolak proposal; cukup dengar suara motor reot gua masuk ke area parkir jurusan, beliau sudah nyiapin tumpukan kertas koreksi merah seakan-akan gua adalah musuh negara nomor satu. Dan dengan senyum paling tanpa dosa di dunia, gua biasanya cuma nyengir kuda, nerima lembar coretan itu, lalu pura-pura paham padahal isinya cuma bahasa alien.
Keluarga di rumah tentu saja punya ekspektasi berbeda jauh dari realita mengenaskan ini. Di kampung halaman, mama dengan bangganya cerita ke para tetangga kalau anak laki-lakinya yang ganteng ini sedang "nyelesaiin riset penting di universitas ternama". Riset penting apanya, kalau kenyataannya kamar gua lebih mirip gudang rongsokan tempat tumpukan baju kotor berkoloni sama piring bekas makan tiga hari lalu. Setiap kali telepon dari rumah masuk, jantung gua langsung berdegup kencang layaknya maling tertangkap basah. Gua harus pasang nada suara paling profesional dan optimis di dunia, padahal sedetik sebelum angkat telepon, gua baru saja ngorek-ngorek sisa koin di celana jeans buat beli es teh manis.