Sebelum Kita Pulang..
Pukul tujuh lewat empat puluh pagi, Jakarta sudah terdengar seperti kota yang sedang terburu-buru mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. Deretan kendaraan memenuhi ruas jalan di depan gedung perkantoran itu, bergerak beberapa meter lalu berhenti lagi, sementara suara klakson sesekali menyelip di antara deru mesin dan suara pedagang kopi yang mendorong gerobaknya ke trotoar. Dari lantai dua puluh tiga, semua itu tampak jauh dan kecil. Kaca-kaca gedung memantulkan matahari pagi yang masih pucat, sementara pendingin ruangan di dalam membuat udara terasa seperti tidak pernah mengenal panasnya kota.
Reza datang hampir empat puluh menit sebelum sebagian besar karyawan mulai memenuhi lantai itu. Seragam kerjanya sederhana: kemeja biru muda, celana hitam, dan sepatu yang sudah beberapa kali dipoles sampai bagian kulitnya mulai kehilangan kilau aslinya. Ia berjalan membawa ember kecil dan beberapa kain lap, berhenti sebentar di depan pintu kaca ruang utama untuk memastikan pantulan dirinya tidak terlihat terlalu berantakan. Bukan karena ia peduli pada penampilan berlebihan. Ia hanya punya kebiasaan memastikan segala sesuatu berada pada tempatnya sebelum pekerjaan dimulai. Rambutnya disisir pendek, wajahnya bersih, dan usianya—empat puluh dua tahun—tidak selalu mudah ditebak dari cara ia bergerak.
Ruang kantor masih kosong ketika Reza mulai bekerja. Lampu-lampu putih menyala satu per satu mengikuti sistem otomatis gedung, memantulkan cahaya dingin ke meja-meja kerja yang berjajar rapi. Di atas beberapa meja terdapat gelas kopi yang ditinggalkan sejak sore sebelumnya, kabel charger yang melintang sembarangan, dan dokumen yang belum sempat dimasukkan ke dalam laci. Reza membersihkan semuanya tanpa banyak suara. Ia tahu meja siapa yang tidak boleh disentuh terlalu jauh, tahu komputer siapa yang selalu dibiarkan menyala, dan tahu bahwa kepala divisi pemasaran akan mengeluh kalau posisi kursinya berubah bahkan dua sentimeter.
Di salah satu meja dekat jendela, sebuah laporan keuangan tertinggal terbuka. Reza berhenti sebentar ketika hendak mengambil gelas kosong di sampingnya. Matanya tanpa sengaja menangkap beberapa angka pada halaman terakhir. Ia membaca cepat, lalu membaca sekali lagi. Ada sesuatu yang terasa ganjil pada angka pertumbuhan kuartal terakhir. Bukan kesalahan besar, hanya sebuah persentase yang tidak sejalan dengan angka pembanding di halaman sebelumnya. Reza mengerutkan dahi, tetapi tidak menyentuh kertas itu. Ia hanya mengambil gelas kopi, membuang isinya, lalu kembali melanjutkan pekerjaan seperti tidak terjadi apa-apa.
Pukul delapan lewat lima menit, suara lift mulai lebih sering terdengar. Pintu terbuka dan tertutup berkali-kali, membawa orang-orang dengan pakaian formal, aroma parfum, suara tawa kecil, dan keluhan tentang kemacetan dari lantai-lantai lain. Reza berdiri di dekat pantry ketika seorang perempuan keluar dari lift sambil memegang ponsel dan sebuah gelas kopi kertas. Perempuan itu mengenakan blouse putih sederhana dengan celana bahan berwarna gelap. Rambutnya panjang, diikat rendah di belakang kepala. Ia berjalan cepat, terlalu fokus membaca sesuatu di layar sampai tidak menyadari bahwa seseorang dari arah berlawanan hampir menabraknya.