← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Sayap Emas Sang Bidadari

Diterbitkan pada: 30 Agustus 2026
✦

class="otQkpb" aria-level="3" role="heading" data-animation-nesting="" data-sfc-cp="" jsaction="" data-wiz-attrbind="aria-level=lDTVLe_11/fLk2Md" jscontroller="a7qCn#ZxCkTb" data-sfc-root="ep" jsuid="lDTVLe_11" data-complete="true" data-processed="true" data-sae="" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 20px; font-weight: 600; margin: 24px 0px 12px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 20px; font-weight: 600; margin: 24px 0px 12px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"BAB 1

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="lDTVLe_14" data-hveid="CAAICBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Pagi telah berjalan ketika Melati membuka pintu rumah mereka. Cahaya matahari masuk dari sela-sela atap rumah tetangga, jatuh tipis di lantai ruang tengah yang baru saja dipel. Gang kecil di depan rumah sudah mulai hidup; suara pedagang sayur terdengar dari kejauhan, disusul deru motor dan sapaan beberapa tetangga yang berangkat bekerja. Melati berdiri sebentar di ambang pintu, menarik napas, lalu kembali ke dalam. Fikri sudah berangkat sejak tadi. Sebelum pergi, suaminya sempat berpesan agar Melati tidak lupa sarapan dan mengingatkan bahwa ia mungkin pulang sedikit lebih sore karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="lDTVLe_1a" data-hveid="CAAICRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Di dapur kecil, Melati membuka tudung saji. Sarapan mereka sederhana: nasi hangat, telur dadar, tumis kangkung, dan sambal lado yang dibuat tidak terlalu pedas untuk anak-anak. Ia mengambil satu piring, lalu memeriksa dua kamar di bagian belakang rumah. Aisyah masih tidur dengan posisi meringkuk sambil memeluk bantal, sedangkan Fatimah terdengar mulai bergerak di dalam tempat tidurnya. Melati tersenyum tipis. Sejak Fikri berangkat, rumah memang terasa lebih sepi, tetapi pekerjaan tidak pernah benar-benar memberi kesempatan baginya untuk memikirkan kesunyian.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="lDTVLe_1g" data-hveid="CAAIChAA" data-processed="true" data-complete="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);""Umi..."Suara Aisyah terdengar dari kamar. Melati segera menghampiri. Anak perempuan berusia delapan tahun itu sudah duduk di tepi kasur dengan rambut berantakan dan mata setengah terbuka."Kenapa, sayang?" tanya Melati sambil merapikan rambutnya.Aisyah langsung bertanya, "Abi sudah pergi?"Melati mengangguk. "Sudah. Abi tadi pamit."Aisyah mengerucutkan bibir. "Aku belum bilang hati-hati."Melati tersenyum sambil mencium keningnya. "Nanti kita telepon Abi."Aisyah mengangguk, lalu melirik ke arah adiknya. "Fatimah belum bangun?""Belum. Jangan diganggu dulu."Aisyah tersenyum jahil. "Aku cuma mau lihat."Melati menggeleng. "Iyo, tapi pelan-pelan."

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="lDTVLe_1w" data-hveid="CAAICxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Aisyah berjalan mengendap-endap menuju tempat tidur adiknya. Fatimah masih tertidur, kedua tangannya menggenggam ujung selimut. Aisyah menatapnya cukup lama sebelum menyentuh pipinya dengan satu jari."Fatimah..."Tidak ada jawaban. Ia menyentuh lagi."Fatimah..."Anak kecil itu menggeliat, membuka mata, lalu wajahnya langsung berubah seperti hendak menangis. Aisyah buru-buru mundur."Umi!"Melati yang baru masuk kamar langsung mengangkat Fatimah."Iya, sayang. Umi di sini."Fatimah memeluk leher ibunya dan menggumam pelan, "Lapar..."Melati tertawa kecil. "Baru bangun sudah lapar. Sabar, Nak."Aisyah ikut mendekat. "Umi, Aisyah juga lapar."Melati memandang kedua putrinya bergantian. "Nah, lengkap sudah."

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul