Saksi Sunyi Lereng Lawu
Hiruk-pikuk Terminal Kampung Rambutan sore itu terasa menyesakkan dada, dipenuhi oleh bau asap knalpot bus kota yang pekat dan bau keringat manusia yang berdesakan mencari penghidupan. Dony berdiri di dekat pilar beton nomor 12, merapatkan ransel carrier-nya yang berat sambil sesekali melirik layar ponsel pintar yang menunjukkan pukul 16.45 WIB. Suasana kota Jakarta menjelang akhir pekan selalu menyisakan kelelahan yang akut, sebuah siklus beton dan kemacetan yang membuat siapa saja ingin melarikan diri sejenak. Di sekitarnya, tiga orang sahabatnya—Bayu, Ardi, dan Siska—tengah berdiskusi sengit mengenai jalur pendakian Gunung Lawu yang akan mereka taklukkan akhir pekan ini.
"Udah, gak usah bahas logistik mulu, yang penting matras sama nesting aman di dalam carrier," ucap Bayu santai sambil menyulut sebatang rokok kretek di bibirnya. Dony hanya mengangguk kecil, meski ada rasa ganjil yang sejak tadi pagi mengusik benaknya tanpa alasan yang jelas. Bayu adalah tipe pendaki senior yang selalu menganggap remeh aturan adat lokal, sesuatu yang kerap membuat Dony merasa cemas di setiap perjalanan. Namun, di antara mereka berempat, Siska adalah satu-satunya yang sejak awal menolak rencana keberangkatan sore hari karena alasan waktu yang sudah terlalu mepet dengan batas maghrib.
"Kita bakal telat sampai basecamp, Don. Lo tahu sendiri mitos warga sekitar soal pendaki yang naik lewat jam empat sore," protes Siska dengan nada cemas, menatap tajam ke arah Ardi yang bertindak sebagai ketua tim pendakian kali ini. Ardi hanya tertawa kecil, menepis kekhawatiran itu dengan logika anak muda urban yang rasional dan menganggap semua mitos lokal hanyalah dongeng pengantar tidur belaka. Bagi Ardi, target utama mereka adalah mengejar pemandangan matahari terbit di puncak Othe-Othe tanpa harus membuang jatah cuti kerja hari Senin. Dony memilih diam, terjebak di tengah perdebatan antara menghormati kearifan lokal atau menuruti ambisi egois kelompok mereka sendiri.
Bus bus jurusan Karanganyar yang mereka tumpangi akhirnya meraung, mengeluarkan deru mesin disel tua yang memekakkan telinga saat kondektur memanggil para penumpang untuk naik. Aroma kabin bus yang apek bercampur bau minyak kayu putih langsung menyambut indra penciuman mereka begitu menjejakkan kaki di lantai bus yang berderit. Dony mendapat jatah kursi nomor sembilan di dekat jendela kaca yang sudah berdebu tebal dan dihiasi goresan-goresan tangan usil penumpang sebelumnya. Saat bus perlahan keluar dari area terminal menuju jalan tol trans-jawa, Dony menatap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu persatu, menciptakan lautan cahaya semu yang tampak megah namun menyimpan kepenatan yang luar biasa.
Perjalanan darat itu memakan waktu belasan jam yang melelahkan, diselingi oleh hentakan suspensi bus yang menghantam lubang-lubang jalan raya lintas provinsi. Di luar jendela, lanskap perkotaan yang padat berangsur-angsur berubah menjadi deretan ruko-ruko pinggir jalan yang sepi, lalu berganti lagi menjadi hamparan sawah gelap gulita yang diterpa sorot lampu utama bus. Dony sempat mencoba memejamkan mata untuk tidur, tetapi suara dengkuran Bayu yang duduk di deretan kursi seberang membuatnya tetap terjaga dalam lamunan yang panjang. Pikirannya melayang pada obrolan singkatnya dengan kakeknya seminggu sebelum berangkat, di mana sang kakek sempat berpesan agar tidak pernah meremehkan hutan di tanah Jawa yang memiliki aturan tak tertulis.