← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Pecahan Kaca atau Berlian?

Diterbitkan pada: 12 Oktober 2026
✦

Gak pernah terfikir di otak gua klo semua bakal jadi kek gini, sumpah gak nyangka banget. Selama ini kan yang gua tau, hidup tuh ya berjalan sebagaimana mestinya. Bangun pagi, mandi kalau inget, makan kalau ada, kerja kalau punya kerjaan, terus tidur sambil berharap besok ada keajaiban. Minimal saldo rekening nambah, walaupun cuma karena ada orang salah transfer. Gua gak muluk-muluk. Gua bukan tipe orang yang punya cita-cita jadi miliarder sebelum umur tiga puluh, punya rumah tiga lantai, atau punya mobil yang pintunya kebuka ke atas kayak sayap kelelawar kurang tidur. Gua cuma pengin hidup yang normal. Normal menurut standar gua, tentunya. Soalnya menurut sebagian orang, hidup gua mungkin udah masuk kategori musibah yang belum sempat diasuransikan.

Masalahnya, gua baru sadar belakangan ini kalau kata normal ternyata punya definisi yang fleksibel. Mirip karet gelang yang dipakai buat mengikat bungkus nasi. Selama masih bisa ditarik, orang bakal terus maksa. Begitu putus, baru semua pada teriak. Bedanya, kalau karet gelang putus, paling sambal lu tumpah. Kalau hidup yang putus, kadang lu bahkan gak tahu bagian mana yang harus dipungut duluan. Harga diri? Kepercayaan diri? Atau sisa-sisa kewarasan yang selama ini gua pelihara dengan susah payah, meskipun kenyataannya lebih sering gua tinggal sendirian tanpa pengawasan.

Dulu gua selalu berpikir kalau orang yang punya sesuatu yang berharga pasti bakal kelihatan berbeda. Bukan berarti mukanya harus bersinar atau setiap kali jalan ada musik orkestra yang mengiringi. Maksud gua, orang yang punya kemampuan, punya hati baik, atau punya masa depan cerah, mestinya punya semacam tanda. Entah apa. Mungkin aura. Mungkin pembawaan. Pokoknya ada sesuatu yang bikin orang lain berhenti sebentar, lalu berpikir, Wah, ini orang kayaknya bakal jadi seseorang. Tapi kenyataannya, dunia gak bekerja seperti acara pencarian bakat. Gak ada juri yang tiba-tiba menghentikan hidup lu sambil menekan tombol emas cuma gara-gara lu punya potensi. Dunia malah sering melewati lu begitu aja, terus berhenti di depan orang yang bahkan gak bisa membedakan percaya diri dengan volume suara.

Dan gua? Gua ini siapa, sebenarnya?

Pertanyaan itu mulai mengganggu gua sejak beberapa kejadian belakangan ini. Awalnya sepele. Cuma komentar orang, tatapan yang sedikit berbeda, dan beberapa perlakuan yang bikin gua bertanya-tanya apakah selama ini mereka memang gak pernah melihat gua, atau baru sekarang mereka memutuskan buat melihat. Rasanya aneh. Kayak lu tinggal di rumah sendiri selama bertahun-tahun, lalu suatu hari ada tamu datang dan bilang, "Eh, rumah lu ternyata jelek, ya." Lah, terus selama ini lu ngapain? Datang buat bertamu atau jadi tim penilai bangunan? Yang bikin kesal bukan karena rumah lu jelek, melainkan karena mendadak lu ikut meragukan rumah yang selama ini lu tinggali dengan tenang.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul