Langkah Kritis Sang Arsitek
BAB 1: KETERSESATAN GEOMETRIS
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="XnQLBf_x" data-hveid="CAAICRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Aroma kopi tubruk yang mulai mendingin dari dalam tumbler plastik di dasbor beradu dengan wangi parfum vanila milik Isla, menciptakan atmosfer yang cukup nyaman di dalam kabin sedan tua milik Riko. Di luar, hujan baru saja reda, meninggalkan aspal jalanan kota yang basah dan memantulkan pendar neon warna-warni dari deretan papan reklame toko yang mulai tutup. Riko sesekali melirik ke arah spion tengah, tersenyum melihat bagaimana Isla sibuk membetulkan letak selendang wolnya sambil menceritakan betapa berbedanya aroma udara malam di kota ini dibanding London yang selalu berbau basid dan dingin. Perjalanan ini awalnya hanya agenda sederhana: mengantar dua teman asingnya kembali ke hotel setelah makan malam panjang di kedai sate legendaris pinggiran kota.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="XnQLBf_z" data-hveid="CAAIChAA" data-processed="true" data-complete="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Davian yang duduk di kursi penumpang depan tiba-tiba terkekeh, membalikkan tubuhnya sedikit ke belakang untuk menatap Isla. "Come on, Isla, kamu terlalu romantis menyikapi polusi," ujar Davian dengan aksen Melbourne yang kental, bicaranya lambat karena mencoba menyisipkan beberapa kata Indonesia yang baru dia pelajari minggu ini. "Di sini hangat, okay? Tapi bau... what do you call it? Asap pembakaran sampah? Itu eksotis untukmu, tapi buat paru-paru saya, ini heavy metal," lanjutnya sambil memperagakan gerakan batuk yang dibuat-buat, memancing tawa renyah dari kursi belakang. Davian selalu punya cara untuk merasionalkan segala hal dengan logikanya yang praktis dan sedikit sinis, tipikal pria yang hanya percaya pada apa yang bisa dihitung oleh angka.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="XnQLBf_14" data-hveid="CAAICxAA" data-processed="true" data-complete="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Isla hanya mencibir, melemparkan pandangan keluar jendela melihat lampu-lampu jalan yang bergerak mundur dengan teratur. "You have no soul, Dave," balas Isla, kali ini menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar lebih berirama namun tetap belepotan di beberapa penekanan kata. "Riko, your city is beautiful kalau malam. Seperti... giant maze yang hidup, penuh lampu. Di London, jam segini semua orang sudah mengurung diri di flat karena angin terlalu bloody cold." Gadis itu menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang berembun, menikmati setiap sudut pertokoan dan aktivitas warga lokal di trotoar yang mulai sepi namun tetap terasa berdenyut hangat.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="XnQLBf_1a" data-hveid="CAAIDBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Riko menyalakan lampu sen kanan, memutar kemudi dengan santai memasuki jalur lingkar luar yang relatif lebih lengang untuk memotong waktu perjalanan mereka. "Nikmati saja selagi sempat, Isla. Kalau siang, kota ini berubah jadi simulasi neraka bocor karena macet dan klakson," sahut Riko setengah bercanda, membuat kedua temannya tertawa bersamaan. Baginya, membawa Davian dan Isla keliling kota adalah jeda yang menyenangkan dari rutinitas pekerjaannya yang menjemukan sebagai arsitek lanskap. Menjelaskan struktur kota, sejarah bangunan tua, hingga rute-rute tikus kepada orang asing selalu memberinya kepuasan tersendiri.