Kutukan Filter Cantik
Bab 1: Kilau Semu di Lantai Dua Puluh Tiga
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="x6uGfc_u" data-hveid="CAAICBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Jakarta selalu punya cara untuk menolak tidur, memamerkan raungan mesin dari kejauhan yang menembus kaca ganda apartemen Shena di lantai dua puluh tiga. Di luar sana, lampu-lampu kota berpijar menyerupai hamparan kunang-kunang mekanis yang tak pernah padam, membakar langit malam dengan polusi cahaya berwarna keunguan. Di dalam kubus beton berukuran studio itu, udara justru bergerak lambat dan terasa dingin, dikondisikan oleh embusan AC yang berdesis konstan tanpa jeda. Wangi lilin aroma terapi varian sandalwood mengapung di udara, mencoba menyamarkan bau apek dinding semen yang luput dari sinar matahari. Shena duduk diam di tengah kepungan itu, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keheningan yang sengaja dia ciptakan sendiri.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="x6uGfc_w" data-hveid="CAAICRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Gadis berusia dua puluh dua tahun itu menatap pantulan dirinya pada permukaan layar monitor yang mati, mencari-cari cela yang mungkin terlewat oleh matanya yang lelah. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis mengetuk meja kayu, menciptakan ketukan monoton yang bersahutan dengan detik jam dinding di sudut ruangan. Malam ini terasa berbeda dari malam-malamanya biasanya; ada kejenuhan yang mengendap di dasar hatinya, sebuah kecemasan halus tentang eksistensinya yang mulai meredup di dunia maya. Angka pengikutnya stagnan dalam tiga minggu terakhir, sebuah dosa besar bagi seorang kreator konten yang hidup dari grafik yang menanjak. Di bawah pendar lampu jalanan yang memantul di langit-langit kamar, ia merasa seperti sebutir debu yang siap tersapu oleh algoritma baru yang lebih kejam.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="x6uGfc_x" data-hveid="CAAIChAA" data-processed="true" data-complete="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Kamar kos eksklusif itu dirancang sedemikian rupa hanya untuk mendukung satu tujuan tunggal: estetika visual yang sempurna di depan lensa kamera. Dinding di belakang meja kerjanya dilapisi panel kayu minimalis dengan pencahayaan latar warm white yang memberikan kesan mewah namun tetap hangat. Seperangkat lampu ring light berdiameter besar berdiri kokoh seperti penjaga gerbang, siap memuntahkan cahaya putih benderang yang mampu menghapus setiap garis halus di wajah manusia. Di sudut lain, tumpukan kotak kosmetik dari berbagai merek sponsor tersusun rapi, menciptakan replika laboratorium kecantikan pribadi yang fungsional. Namun di balik semua keteraturan kosmetik itu, sudut-sudut ruangan yang tak terjangkau kamera dibiarkan berantakan dengan pakaian kotor dan bungkus makanan instan.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="x6uGfc_10" data-hveid="CAAICxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Shena menghela napas panjang, lalu meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas bantalan beludru dengan gerakan yang hampir mekanis. Layar gawai itu langsung menyala, memuntahkan kilatan cahaya biru yang menerangi sepasang lingkaran hitam di bawah kelopak matanya yang mulai mengendur. Ibu jarinya mulai menari di atas kaca, menggulirkan linimasa aplikasi tren masa kini yang bergerak secepat kilat, menampilkan ratusan wajah asing yang bersaing berebut perhatian. Setiap video yang lewat menawarkan standar baru, sebuah perlombaan tanpa akhir tentang siapa yang paling simetris, paling berkilau, dan paling tidak mirip manusia. Di kota yang menuntut kesempurnaan instan ini, Shena tahu bahwa keaslian adalah mata uang yang sudah lama kehilangan nilainya di pasar digital.