← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Kirana

Diterbitkan pada: 20 Agustus 2026
✦

BAB 1: Sebelum Lensa Menangkap Sunyi

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="UmKGj_p" data-hveid="CAAIBxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Langit di atas Jalan beralaskan aspal basah sisa hujan sore itu tampak berwarna jingga keunguan, memantulkan cahaya dari lampu-lampu papan reklame kota yang mulai menyala satu per satu. Aris menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul, membiarkan rasa pahit yang hangat itu membakar lidahnya sejenak sebelum pandangannya kembali tertuju pada layar laptop di hadapannya. Di sudut kedai kopi kecil pinggir jalan yang riuh oleh suara klakson kendaraan sepulang kerja, dia merasa aman di antara kepulan asap rokok dan tawa samar pengunjung lain. Dunia di sekitarnya terasa begitu bergerak, begitu hidup, dan begitu jauh dari urusan kematian yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="UmKGj_q" data-hveid="CAAICBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Dia memeriksa sisa baterai kamera DSLR miliknya yang tergeletak di atas meja kayu, mengelap lensanya dengan kain mikrofiber secara perlahan dan penuh ketelitian. Baginya, kamera ini bukan sekadar alat kerja, melainkan perpanjangan dari matanya sendiri untuk merekam momen-momen penting yang sering kali dilewatkan orang. Meskipun pekerjaannya sebagai fotografer pemakaman sering dianggap tabu atau bahkan menakutkan oleh sebagian orang, Aris selalu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ada keindahan yang tulus dalam kesedihan, dan ada penghormatan terakhir yang layak diabadikan agar tidak lekang oleh waktu.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="UmKGj_r" data-hveid="CAAICRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Suara tawa renyah dari meja sebelah memecah lamunannya, memperlihatkan sekelompok remaja yang sedang sibuk berswafoto dengan latar belakang lampu kota. Aris tersenyum tipis, menghargai bagaimana kehidupan normal yang hangat ini selalu bisa mengimbangi dinginnya ruang-ruang duka yang biasa dia datangi. Kota ini selalu punya cara untuk tetap terasa akrab, bahkan ketika malam mulai menjemput dan menyisakan angin dingin yang berembus dari celah-celah bangunan tua. Dia melirik jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam, menandakan bahwa waktu santainya tidak akan berlangsung jauh lebih lama lagi.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="UmKGj_s" data-hveid="CAAIChAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Sebuah bayangan tiba-tiba runtuh di atas mejanya, diikuti oleh tepukan keras di bahunya yang membuat Aris sedikit tersentak dari duduknya. Itu Gani, sahabat sekaligus rekan kerjanya yang malam ini mengenakan jaket jins belel kesayangannya dengan senyum lebar yang khas. Gani langsung menarik kursi di hadapan Aris tanpa permisi, meletakkan kunci motornya di atas meja hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring. Kehadiran Gani selalu berhasil membawa energi hidup yang penuh canda, sebuah penawar yang pas untuk Aris yang cenderung terlalu serius.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul