← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Kabut Kematian di Ujung Nagari

Diterbitkan pada: 13 Agustus 2026
✦

Surau di Ujung Batang Arau

data-path-to-node="3"Udara sore di nagari pinggiran Sumatra Barat itu tidak sekadar dingin. Anginnya menelusup dari celah-celah papan, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan bau anyir lumut dari arah sungai. Di balik lensa kameranya, Raka menahan napas. Jemarinya memutar ring fokus, membidik ukiran singa mandongkak di ambang pintu Rumah Gadang milik keluarga besarnya.

data-path-to-node="4"Kayu-kayu tua berwarna hitam itu berderit setiap kali diterjang angin lembah. Bunyinya memanjang, seolah merintih meratapi nasib—minggu depan, kemegahan yang telah mengakar hampir seabad ini akan diratakan dengan tanah. Sebagai fotografer dokumenter dan satu-satunya cucu laki-laki yang lama merantau ke ibu kota, Raka memikul beban moral. Ia harus merekam sisa-sisa napas tempat ini sebelum ekskavator menelan semuanya.

data-path-to-node="5""Raka... turunkan bendamu itu. Hari sudah hampir magrib. Kabut Batang Arau kalau sudah turun, suka membawa yang tidak-tidak ke pekarangan."

data-path-to-node="6"Suara serak Uni Marni memecah fokus Raka. Perempuan tua itu berjalan tertatih dari arah dapur yang temaram. Tangannya yang keriput menyodorkan gelas seng berisi kopi hitam pekat. Asap kopi membumbung tipis, kalah oleh kabut yang mulai merayap dari lantai papan. Wajah Uni Marni selalu membuat Raka merasa sesak; guratan di wajahnya bukan sekadar jejak usia, melainkan monumen dari sebuah kedukaan maha berat yang dipikul sendirian puluhan tahun.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul