Jurnal Penjaga Perlintasan
Suara derit besi tua beradu dengan rel berkarat memecah kesunyian malam di Stasiun Randuagung, sebuah stasiun transit kelas tiga yang terhimpit di antara perkebunan tebu dan pinggiran hutan. Angin malam berembus membawa bau tanah basah dan aroma uap oli yang menyengat, menyapu peron remang-remang yang hanya diterangi satu bola lampu gantung yang terus berkedip. Radit membetulkan tali tas selempangnya yang menekan bahu kanan, membiarkan ujung kemeja lamanya yang lepek oleh keringat mendekap erat kulitnya yang kedinginan. Ia berkali-kali menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 23.12, mengutuk dalam hati karena jadwal kereta ekonomi reguler yang seharusnya ia tumpangi tak kunjung melintas.
Papan informasi kayu di dinding stasiun sudah lapuk, catnya mengelupas menampilkan nama-nama stasiun yang sebagian hurufnya sudah hilang. Radit melangkah mendekati loket tiket yang gelap dan tertutup rapat oleh kisi-kisi besi berdebu. Di dalam ruangan sempit itu, tidak ada petugas yang berjaga, hanya ada tumpukan kertas bekas dan sebuah radio gantung yang menyiarkan suara desis frekuensi kosong. Rasa panik mulai merayapi dada Radit; dokumen fisik di dalam tasnya harus tiba di kantor pusat besok pagi sebelum jam delapan, atau seluruh pekerjaannya selama tiga bulan terakhir dianggap batal demi hukum.
Langkah kaki yang berat dan terseret mendadak terdengar dari arah bangku kayu panjang di sudut peron. Seorang pria setengah baya dengan jaket parasut kusam dan topi beret yang agak miring berdiri perlahan, membetulkan posisi tas karung kain berikat tali rafia di dekat kakinya. Pria itu menyulut sebatang rokok kretek, membuat nyala api korek kayu menyinari sekilas wajahnya yang bergaris keras dan berkerut di sekitar mata. Radit menoleh, sedikit terkejut karena sejak lima belas menit lalu ia mengira dirinya adalah satu-satunya manusia yang berada di peron terpencil itu.
"Nunggu kereta jam sebelas lewat seperempat?" suara pria itu serak dan dalam, menyemburkan asap putih tipis yang langsung terurai disapu angin malam. Pria itu mengamati Radit dari ujung kepala sampai ujung sepatu ketsnya yang berlumur lumpur kering.
Radit mengangguk cepat sambil melangkah satu meter mendekati pria tersebut, berharap mendapat kepastian. "Iya, Pak. Katanya ada kereta ekonomi terakhir arah barat yang melintas jam segini. Tapi dari tadi loket tutup dan papan sinyal di ujung sana cuma menyala kuning."