← Kembali
Ruang Baca
🌙 Aa 🔖
Terakhir baca di paragraf 0
Editorial / Cerita Rei

Jiwa yang Sempat Hilang

Diterbitkan pada: 15 Agustus 2026
✦

BAB 1: KAFE DI UJUNG JALAN PASIR

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="fJQOs_1m" data-hveid="CAAIChAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Parangtritis setelah jam dua pagi bukan lagi tempat bagi para pelancong yang mencari swafoto. Gulita telah menelan garis pantai, menyisakan deru ombak laut selatan yang berdentum konstan seperti detak jantung purba yang gelisah. Di sepanjang jalan aspal yang mulai retak-retak, warung-warung makan semi-permanen sudah menutup tirai bambunya rapat-rapat. Hanya beberapa lampu merkuri jalanan yang berkedip sekarat, memantulkan bayangan tiang-tiang listrik yang tampak seperti barisan raksasa kurus sedang menunduk kedinginan.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="fJQOs_1s" data-hveid="CAAICxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Masyarakat di sekitar pesisir ini punya kesepakatan tak tertulis dengan malam: setelah parak siang berganti sunyi, ruang terbuka adalah milik sesuatu yang lain. Para tukang delman sudah mengandangkan kudanya sejak magrib, sementara para penjaga losmen murah memilih meringkuk di balik selimut sambil membiarkan televisi menyala tanpa suara. Udara malam itu terasa ganjil, membawa campuran bau garam laut yang pekat dan luluhan wangi kemenyan dari sesajen segar yang diletakkan warga di sudut-sudut pertigaan jalan. Di bawah langit tanpa bintang, daerah ini berbisik lewat desau angin yang sanggup membuat tengkuk meremang tanpa alasan yang jelas.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="fJQOs_1y" data-hveid="CAAIDBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Gibran berjalan membelah keheningan itu dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat, menikmati setiap gesekan sol sepatunya pada butiran pasir yang terbawa angin ke atas aspal. Kemeja linen hitam longgarnya berkibar agak liar, terasa dingin saat kain tipis itu sesekali menempel ketat di kulit dadanya. Sebagai orang yang hidup dari mengevaluasi rasa di restoran-restoran bintang lima, dia sudah bosan dengan kepalsuan estetika kota yang serba terukur. Dia justru sengaja datang ke sudut pesisir ini demi berburu keaslian rasa yang konon hanya bisa ditemukan di warung-warung legendaris yang tersembunyi dari peta digital.

class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="fJQOs_24" data-hveid="CAAIDRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Langkah Gibran terhenti di sebuah gang buntu yang berbatasan langsung dengan rerimbun pohon pandan laut yang rimbun dan gelap. Di ujung gang yang seharusnya kosong itu, sebuah papan kayu kecil bertuliskan “Raras” bergoyang pelan ditiup angin, memancarkan cahaya kuning redup dari lampu pijar kuno di atasnya. Tidak ada suara musik, tidak ada papan menu neon yang mencolok, dan tidak ada jejak digital apa pun tentang tempat ini di ponselnya. Bangunan kafe itu berbentuk rumah joglo kecil yang kayu-kayunya sudah menghitam karena usia, berdiri kokoh seolah-olah telah ada di sana sebelum jalan aspal Parangtritis pertama kali dibangun.

Kasih rating cerita ini
★ ★ ★ ★ ★
💬 Komentar (0)
Memuat komentar...
Kamu sudah membaca 0% cerita ini
Cover Sampul