Jika Waktu Menjadi Dimensi
class="otQkpb" aria-level="3" role="heading" data-animation-nesting="" data-sfc-cp="" jsaction="" data-wiz-attrbind="aria-level=n7cGje_10/fLk2Md" jscontroller="a7qCn#ZxCkTb" data-sfc-root="ep" jsuid="n7cGje_10" data-complete="true" data-processed="true" data-sae="" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 24px; margin: 24px 0px 12px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 24px; font-weight: 500; margin: 24px 0px 12px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"BAB 1
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="n7cGje_13" data-hveid="CAAICxAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Angin musim gugur di sudut Swanston Street berembus cukup kencang, menerbangkan daun-daun kering pohon plane yang berserakan di atas trotoar batu. Di depan gerbang utama University of Melbourne, hiruk-pikuk mahasiswa dari berbagai belahan dunia mulai memadati area halte trem. Di antara kerumunan itu, sebuah mobil Mercedes-Benz kelas atas berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di zona drop-off. Pintu belakang terbuka, menampilkan sepasang sepatu bot kulit premium yang melangkah turun dengan anggun ke atas aspal.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="n7cGje_16" data-hveid="CAAIDBAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Amara membenulkan letak syal rajut kasmir merek desainer ternama yang melilit lehernya yang jenjang. Di belakangnya, Chloe, sahabat karibnya sesama anak ekspatriat kaya asal Jakarta, langsung menyusul dengan langkah terburu-buru sambil memegang dua gelas iced matcha latte. Chloe sibuk mengomplain tentang tugas dosen makroekonomi yang dianggapnya tidak masuk akal untuk ukuran minggu pertama perkuliahan. Namun, Amara hanya mendengarkan dengan setengah hati, matanya sibuk memindai pantulan dirinya di kaca jendela gedung The Spot yang megah.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="n7cGje_1a" data-hveid="CAAIDRAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);""Gila ya, Mara, si Profesor Smith itu bener-bener gak punya perasaan. Baru juga kelar orientation week, udah dikasih case study setebal kamus," gerutu Chloe sembari menyerahkan salah satu gelas minuman ke tangan Amara. Amara menerima gelas itu tanpa menoleh, bibirnya yang dipoles lipstik merah bata melengkung sinis saat melihat segerombolan mahasiswa lokal yang tertawa keras di dekat tangga. Bagi Amara, lingkungan kampus ini hanyalah panggung lain tempat dia harus tetap menjadi yang paling bersinar, terlepas dari statusnya sebagai anak seorang menteri di tanah air.
class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" jsaction="" jscontroller="TDBkbc#Ml18Xb" data-sfc-root="ep" jsuid="n7cGje_1d" data-hveid="CAAIDhAA" data-complete="true" data-processed="true" data-copy-service-computed-style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; font-weight: 400; margin: 12px 0px 16px; text-decoration: none; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);" style="font-family: "Google Sans", Arial, sans-serif; font-size: 16px; margin: 12px 0px 16px; border-bottom: 0px rgb(230, 232, 240);"Di pergelangan tangan kiri Amara, jam takdir digital berwarna neon biru masih menampilkan angka mati: 00:00:00:00. Beberapa cowok dari jurusan hukum yang sedang nongkrong di dekat pintu masuk sempat mencuri pandang ke arah Amara, beberapa bahkan berbisik sengaja memamerkan jam tangan mereka yang berdetak aktif. Amara hanya membalas dengan tatapan dingin, seolah menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang cukup pantas untuk mengaktifkan kembali waktu di tangannya. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan pria yang bertingkah bodoh hanya demi menarik perhatiannya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Australia.