Jejak Hitam di Aspal Panas
Nama aku Ucok. Umur dua puluh lima tahun. Orang Medan. Sekarang tinggal di Jakarta, kerja sebagai tukang tambal ban. Kalau kau tanya kenapa aku bisa sampai Jakarta, jawabannya panjang kali. Kalau kau tanya apakah hidupku lebih bagus setelah sampai Jakarta, jawabannya juga panjang, tapi ujung-ujungnya bikin capek. Jadi, biar pendek saja: aku merantau karena mau cari duit.
Duitnya belum banyak, tapi setidaknya aku sudah tahu rasanya mencari duit di kota yang harga makanannya bisa bikin kau berpikir dua kali sebelum nambah nasi. Tempat aku kerja kecil di pinggir jalan. Ada atap seng, meja kecil buat naruh peralatan, kompresor, bak air, beberapa ban bekas, dan satu kursi plastik yang sudah terlalu lama kupakai sampai aku merasa dia lebih setia daripada sebagian manusia yang pernah kukenal.
Di belakang tempat tambal ban ada ruang sempit. Di situlah aku tidur. Jangan dibayangkan seperti kamar. Kalau kau masuk ke situ, kau bisa melihat kasur tipis, tas pakaian, ember, kompor kecil, beberapa kardus, dan satu kipas angin yang kalau dinyalakan bunyinya seperti sedang protes kepada Tuhan. Tapi aku nyaman, atau setidaknya sudah terbiasa. Lagipula, kalau tempat kerja sekaligus tempat tinggal, aku tidak perlu bayar ongkos pergi kerja. Bangun tidur langsung kerja. Mau tidur tinggal tutup pintu depan. Kalau ada pelanggan malam-malam, tinggal bangun. Praktis kali hidupku.
Masalahnya cuma satu: pelanggan itu tidak selalu datang. Kadang satu jam tidak ada, dua jam tidak ada, tiga jam pun tidak ada. Pernah satu hari dari pagi sampai sore cuma dua motor yang datang. Yang satu tambal ban, yang satu lagi cuma tanya arah. Yang tanya arah itu malah lebih lama ngobrolnya.
“Bang, kalau mau ke Pasar Minggu lewat mana?”