Jalan Terjal Sang CEO
BAB 1: Hening Yang Mematikan
Langit di luar jendela kontrakan petakan itu berwarna abu-abu pekat, seolah alam pun sedang menahan napas, enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di dalam ruangan sempit berukuran 3x4 meter itu. Tidak ada suara televisi, tidak ada dering telepon, dan yang paling menyakitkan: tidak ada suara tawa dua putri kecil yang biasa memanggilnya "Papa". Hanya ada dengusan kipas angin tua yang berderit pelan, berjuang melawan pengapnya udara Jakarta sore itu.
Reno duduk bersila di atas tikar plastik yang sudah menipis. Di hadapannya, sebuah gelas kaca bening berisi air putih tampak sederhana, bahkan sepele. Tapi bagi Reno malam itu, gelas itu adalah pintu gerbang menuju ketiadaan. Tangannya gemetar halus, bukan karena dingin, melainkan karena beban tujuh tahun terakhir—sembilan tahun pernikahan, usaha yang hancur, dan pengkhianatan yang datang tepat saat ia paling lemah—telah meremukkan tulang-belulang harga dirinya.
Ia menatap potongan-potongan kecil obat nyamuk bakar yang mengendap di dasar gelas. Racun murah untuk mengusir serangga, kini menjadi solusi terakhir untuk mengusir rasa sakit yang jauh lebih mematikan daripada gigitan nyamuk mana pun.
"Sudahlah, Ren. Cukup," bisik hatinya, suaranya parau oleh tangisan yang sudah kering bermalam-malam lamanya.