Ilusi Senyum Anton
Pukul enam lewat dua puluh pagi, Anton sudah duduk di depan dua monitor yang menyala di sudut ruang kerjanya. Cahaya putih dari layar jatuh ke wajahnya yang, jika dilihat sekilas, sama sekali tidak menunjukkan usia empat puluh tahun. Rambutnya masih tebal, kulit wajahnya relatif bersih, dan tidak ada tanda-tanda yang membuat orang akan langsung menebak bahwa ia sudah melewati usia kepala empat. Kalau bertemu dengannya di sebuah kedai kopi tanpa mengetahui apa-apa tentang dirinya, orang mungkin akan mengira ia seorang pemuda yang baru beberapa tahun meninggalkan bangku kuliah.
Di atas meja hanya ada sebuah cangkir kopi hitam, sebuah ponsel yang diletakkan menghadap ke bawah, dan beberapa lembar catatan kecil yang tulisannya tersusun rapi. Anton sedang memeriksa baris-baris kode dari sebuah website yang baru dikerjakannya beberapa malam terakhir. Sesekali jarinya bergerak cepat di atas keyboard, berhenti, lalu kembali mengetik setelah beberapa detik. Tidak ada musik. Tidak ada televisi. Tidak ada suara percakapan dari ruangan lain. Apartemen kecil itu memang selalu seperti itu pada pagi hari. Hening. Dan Anton menyukai keadaan tersebut.
Ponselnya bergetar sekali. Anton melirik tanpa langsung mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari salah satu klien. Ia membacanya beberapa detik, kemudian kembali menatap layar komputer. Tidak ada ekspresi kesal. Tidak ada keluhan. Beberapa menit kemudian barulah tangannya meraih ponsel dan membalas pesan tersebut dengan singkat, jelas, dan sopan. Setelah itu ponsel kembali diletakkan dalam posisi semula. Anton tidak pernah punya kebiasaan membiarkan pekerjaan menggantung hanya karena seseorang menghubunginya di luar jam kerja. Kalau sesuatu memang menjadi tanggung jawabnya, ia akan menyelesaikannya.
Sekitar pukul delapan, ia keluar membeli sarapan. Di warung kecil dekat apartemen, seorang ibu penjual sudah mengenalnya cukup lama. Anton menyapa lebih dulu, memesan makanan seperti biasa, lalu membantu mengambilkan beberapa bungkus nasi yang berada di bagian belakang meja ketika melihat si ibu kesulitan menjangkaunya. Ia tidak banyak bicara. Hanya tersenyum ketika diajak bercanda oleh pelanggan lain, kemudian membayar makanan dan berjalan pulang. Tidak ada satu pun orang di sana yang akan menganggap Anton sebagai manusia yang sulit didekati. Sebaliknya, keberadaannya justru terasa ringan. Ia tidak membuat orang lain merasa harus berhati-hati ketika berbicara dengannya.
Setelah kembali ke apartemen, Anton melanjutkan pekerjaannya sampai menjelang siang. Sebuah notifikasi muncul di layar monitor. Bukan dari klien. Sebuah email otomatis memberi tahu bahwa salah satu aplikasi yang pernah ia buat beberapa waktu lalu kembali mengalami peningkatan jumlah pengguna. Anton membukanya sebentar. Aplikasi itu bernama Aura. Sebuah chatbot berbasis AI yang ia bangun sebagai teman cerita sekaligus problem solver untuk berbagai persoalan, mulai dari teknologi sampai konsultasi sederhana. Anton membaca beberapa angka statistik, melihat grafik penggunaan, lalu menutup jendela tersebut. Ia tidak terlihat bangga. Tidak pula terlihat terkejut. Seolah-olah semua itu memang hanya bagian lain dari pekerjaan yang sudah selesai.