Ekspedisi dan Cinta Jina
BAB 1 — JEJAK PERTAMA
Pagi di Puger menyambut Jina dengan udara yang jauh lebih lembap daripada yang ia bayangkan. Aroma laut, solar, ikan, dan tanah basah bercampur menjadi satu ketika ia turun dari mobil yang membawanya dari Jember. Ia berdiri sebentar di tepi jalan sambil mengangkat ranselnya ke bahu, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Di hadapannya, aktivitas nelayan sudah berlangsung sejak matahari belum sepenuhnya muncul. Perahu-perahu kayu bergerak keluar masuk dermaga, beberapa orang mengangkut peti ikan, sementara suara mesin kapal bersahutan dengan teriakan para pekerja. Jina menarik napas panjang. Perjalanan dari Makassar yang kemudian dilanjutkan melalui Boston, Jakarta, dan beberapa penerbangan domestik selama bertahun-tahun telah membentuk kebiasaan baginya untuk berpindah dari satu tempat penelitian ke tempat lain, tetapi pagi itu terasa berbeda. Kali ini ia tidak sedang datang untuk sekadar membaca data. Ia akan masuk langsung ke wilayah yang selama berbulan-bulan hanya dikenalnya melalui citra satelit dan hasil survei geofisika.
Jina lahir dan besar di Sulawesi Selatan, sebelum pendidikan membawanya jauh dari rumah. Beberapa tahun di Boston memberinya pengalaman bekerja dengan teknologi survei bawah permukaan yang jauh lebih maju daripada perangkat yang biasa ia temui dalam penelitian lapangan di Indonesia. Namun, justru setelah kembali ke tanah air, ia mulai tertarik pada hubungan antara struktur geologi dan peninggalan manusia masa lalu. Bagi Jina, geoarkeologi bukan sekadar mencari benda tua yang terkubur di tanah. Ia ingin memahami bagaimana manusia pada masa lampau membaca lingkungan mereka, memilih tempat tinggal, memanfaatkan air, mengenali sifat batuan, dan membangun sesuatu berdasarkan pengamatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Penelitian di Nusa Barung awalnya bukan miliknya. Ia hanya diminta bergabung setelah sebuah survei awal menemukan anomali bawah permukaan yang dianggap tidak lazim untuk kawasan karst pulau tersebut.
Di dalam ponselnya masih tersimpan laporan yang pertama kali membuatnya tertarik. Ada beberapa titik anomali yang tersebar di kawasan hutan bagian tengah pulau. Data tersebut belum cukup untuk menyebutnya sebagai situs arkeologi. Bahkan belum cukup untuk memastikan bahwa anomali itu buatan manusia. Namun, ada satu hal yang membuat Jina tidak bisa mengabaikannya. Beberapa pembacaan magnetik menunjukkan pola yang terlalu teratur untuk sekadar dianggap sebagai variasi batuan biasa. Di sekitar titik tersebut juga ditemukan fragmen batu yang oleh tim survei awal dianggap memiliki karakter berbeda dari batuan karbonat yang umum dijumpai di lingkungan setempat. Karena itulah ekspedisi mereka dibentuk. Tujuan resminya sederhana: melakukan survei geofisika, memetakan anomali, memeriksa kemungkinan adanya struktur buatan manusia, dan mendokumentasikan setiap temuan tanpa merusak kawasan konservasi. Jika tidak ada apa-apa, mereka akan pulang membawa data. Jika ada sesuatu, mereka akan menjadi tim pertama yang mendokumentasikannya secara sistematis.
Gudang tempat perlengkapan ekspedisi dikumpulkan berada tidak jauh dari dermaga. Jina menemukan lokasi itu setelah berjalan sekitar lima menit dari tempat ia turun tadi. Beberapa peti peralatan sudah berjajar di lantai. Drone, baterai, perangkat survei, peralatan pemetaan, perlengkapan keselamatan, tenda, kotak P3K, dan berbagai benda yang tidak langsung dikenali Jina memenuhi sebagian besar ruangan. Seorang pria berdiri membelakanginya sambil mencoba mengangkat sebuah peti berukuran sedang. Tubuhnya terlihat cukup atletis untuk seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan, tetapi cara ia mengangkat peti tersebut menunjukkan bahwa ia lebih terbiasa menggunakan tenaga daripada membaca label peralatan. Ketika pria itu berbalik, Jina mengenalinya dari foto yang pernah dikirim Clara.