Distorsi Perspektif dan Jarum Gramofon
BAB 1: Goresan Sketsa dan Jarum Gramofon
Gerimis tipis yang membasuh kawasan Dago Atas sore itu menyisakan aroma tanah basah yang pekat, berselimut hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam studio arsitektur lantai tiga yang pengap oleh aroma pengencer cat dan kopi instan, Citra masih terpaku di depan meja gambar besarnya. Jemarinya yang mulai kaku menekan penggaris rotring dengan presisi, mencoba merampungkan maket struktur yang sudah menyita waktu tidurnya selama tiga hari terakhir. Baginya, setiap garis lurus adalah bentuk kendali atas hidupnya yang serba teratur, sebuah kepastian yang selalu ia cari di tengah riuhnya tuntutan tugas akhir yang seolah tidak ada habisnya.
Di luar jendela besar studio, lampu-lampu jalanan Bandung mulai menyala satu per satu, mengabur di balik kaca yang berembun, menciptakan siluet kota yang muram sekaligus puitis.Ketika jam dinding tua di sudut ruangan berdentang lima kali, Citra akhirnya memutuskan untuk mengemas tabung gambarnya yang berat. Langkah kakinya terdengar monoton saat menyusuri koridor kampus yang mulai sepi, hanya menyisakan gemuruh angin yang menggoyang pucuk-pucuk pohon pinus di halaman tengah. Ia membutuhkan pelarian sesaat dari rutinitas kalkulasi sudut bangunan yang melelahkan kepalanya. Alih-alih langsung pulang ke kosan, tujuannya sore ini adalah sebuah kedai kopi merangkap toko buku bekas yang tersembunyi di balik gang sempit, tak jauh dari terminal Dago.
Tempat itu selalu menjadi suaka kecilnya, ruang di mana waktu seolah berjalan lebih lambat dan arsitektur modern kota tidak mampu menjamah keaslian dinding bata merahnya yang mulai berlumut.Langkah Citra terhenti di depan pintu kayu jati kedai bernama "Laras Selaras" itu, disambut oleh denting bel kuningan yang renyah saat ia mendorongnya perlahan. Hangatnya udara dalam ruangan langsung menyapu wajahnya, membawa serta aroma seduhan biji kopi lokal yang bercampur dengan bau khas kertas-kertas tua yang menguning. Di sudut ruangan, sebuah gramofon kuno sedang memutarkan lagu jazz instrumental beritme lambat, menghasilkan suara gemerisik statis yang justru menambah keintiman atmosfer tempat tersebut. Tempat itu tidak pernah ramai, hanya ada satu atau dua pengunjung yang tenggelam dalam bacaan mereka masing-masing di bawah temaram lampu jepit kekuningan. Citra mengedarkan pandangan, mencari meja sudut favoritnya di dekat jendela yang menghadap ke arah jalan setapak yang basah.
Namun, tempat perlindungan itu ternyata sudah berpenghuni oleh seorang pria berjaket denim pudar yang sedang sibuk membersihkan sekeping piringan hitam dengan kain mikrofiber. Pria itu adalah Arkan, mahasiswa Sastra yang bagi sebagian orang di kampus dikenal sebagai pengelana waktu karena penampilannya yang selalu membawa aura masa lalu. Di atas meja kayu di hadapannya, berserakan beberapa buku puisi tebal yang halamannya sudah melipat di ujungnya, bersanding dengan segelas kopi hitam yang uapnya telah hilang.